DE BLOTMasih ingat cerita spesimen Trulek jawa dari Rejotangan dan pertanyaan-pertanyaannya? (lihat posting
Misteri Rejotangan). Masih ingat cerita jalan-jalannya SBI ke Rejotangan? (lihat posting
Dulu Danau, Sekarang Sawah)
Sekadar menyegarkan kembali ingatan, pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab kala itu adalah siapa Chauvigny de Blot? Apa yang dilakukannya di Redjotangan pada Oktober 1917? Apa yang dimaksud dengan kata "meer"? Seberapa
inland sebenarnya sebaran Trulek jawa itu? Apakah Trulek jawa masih ada saat ini di Rejotangan?
Sebelum, selagi, dan sesudah Tim Ekspedisi menyelesaikan ekspedisi tahap pertama di selatan
Lumajang, saya juga melakukan ekspedisi alam maya (
cyberspace expedition) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Begini laporan hasil ekspedisi alam maya tersebut.
Kunci jawaban dari seabreg pertanyaan itu ada pada seorang tokoh bernama Paul de Blot (lengkapnya Paul de Chauvigny de Blot). Ia warga negara Indonesia yang lahir di Kutowinangun,
Kebumen, Jawa Tengah, dan saat ini mengajar bisnis internasional di
Nyenrode Business Universiteit, Nederland.
Paul adalah putra Chauvigny de Blot, orang yang namanya yang tertulis pada label spesimen di
Museum Zoologi, Bogor. Nama lengkapnya adalah Gerardus de Chauvigny de Blot. Ia lahir di
Tegal pada 1894. Pak Gerardus ini bukanlah seorang ahli biologi, melainkan sinder perkebunan di Kutowinangun. Ia bersahabat dengan seorang ahli biologi berkebangsaan Jerman (namanya belum saya dapatkan) yang mengajarkannya banyak hal, termasuk bagaimana membuat spesimen.
Pada 1933, Pak Gerardus pindah ke
Bandung dan seluruh koleksi spesimennya disumbangkannya ke
Museum Zoologi di Bogor. Antara 1935/1936 ia pindah ke Rejosari,
Madiun, dan menetap sampai 1942. Ia sempat ditahan bala tentara Jepang. Setelah Perang Dunia II selesai, ia kembali ke Rejosari dan pada tahun 1957 ia pulang ke Belanda dan meninggal dunia pada 1968.
Apa yang dilakukannya di Redjotangan pada Oktober 1917? Pak Gerardus sering berburu babi hutan di daerah ini bersama adiknya, Frits de Chauvigny de Blot, yang tinggal di sebuah pesantren di Kediri. Walaupun masih berusia muda, sebagai sinder perkebunan posisi Pak Gerardus sudah cukup tinggi saat itu. Bayangkan, ia sudah memiliki mobil -- kendaraan yang cukup langka saat itu -- yang sering kali dipakainya buat jalan-jalan (kayak Mas Koes).
Apa yang dimaksud dengan kata "meer"?
Meer yang dimaksud pada tulisan di label spesimen (
Meer van Redjotangan) mengacu pada sebuah danau yang terletak di sebelah selatan Desa Rejotangan. Danau ini sekarang telah hilang, berubah menjadi areal persawahan yang luas. Menurut informasi dari penduduk setempat (Pak Dugel), danau itu mulai diubah menjadi sawah seusai Perang Dunia II.
Seberapa
inland sebenarnya sebaran Trulek jawa itu? Mengingat jarak lurus Rejotangan dari pantai lebih dari 20 kilometer, penyebaran Trulek jawa mungkin saja lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini diperkuat oleh satu spesimen Trulek jawa yang dikoleksi oleh G.F.Taylor pada Juli 1918 di
Buitenzorg (
Bogor) yang jaraknya dari pantai terdekat lebih dari 50 kilometer.
Saat itu tampaknya ada areal lahan basah yang cukup luas di
Bogor. Hal ini diperkuat dengan adanya record Mentok rimba (
Cairina scutulata) pada 1839-1844 di
Bogor.

(MENTOK RIMBA alias
Cairina scutulata, foto: istimewa)
Apakah Trulek jawa masih ada saat ini di Rejotangan? Sedihnya....mungkin tidak ada lagi.
Dari cerita di atas, kita bisa ambil kesimpulan sementara:
- Trulek jawa bukanlah burung pantai.
- Sebaran Trulek jawa bisa jadi lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.
- Trulek jawa dahulu hidup di lahan-lahan basah dataran rendah Jawa.
Mengingat ada banyak sekali daerah di Jawa yang belum dieksplorasi, tampaknya kita harus ber-
let's go monggo lagi. Ayo, siapa tertarik?
Informasi tentang Mentok rimba bisa ditelusuri di: