EKSPEDISI TRULEK JAWA
Anak Burung - BKSDA JATIM II - MAPENSA UNEJ -
PEKSIA HIMBIO UNAIR - Sahabat Burung Indonesia

Ekspedisi ini didukung oleh
Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, Avtech, Adventurer, Sapta Tours





Jurnal Ekspedisi Trulek Jawa di Jawa Timur, 15 Juni - 26 Januari 2006. Penggagas: komunitas Sahabat Burung Indonesia. Pelaksana: Anak Burung - BKSDA II JATIM - MAPENSA UNEJ - PEKSIA HIMBIO UNAIR - Sahabat Burung Indonesia (SBI).


Tim Ekspedisi :

Iwan Febrianto alias Londo, ketua. Pria asal Surabaya ini piawai dalam identifikasi burung-burung air dan memotretnya dengan peralatan seadanya. Hasil jepretan Londo sudah dikenal oleh khalayak SBI.

Londo di sebelah kiri dan Uut sedang berjemur matahari.

Yuwana Peksa Utama alias Uut, anggota. Pemuda gondrong asal Surabaya. Seperti juga Mas Londo, Uut piawai dengan burung-burung air dan dijamin tahan jemur. Lokasi penelitian di selatan Lumajang memang membutuhkan jago jemur-jemur sementara konsentrasi harus tetap penuh.

Fransisca Noni Tirtaningtyas, anggota. Noni yang pernah dipanggil "Mas" dalam milis SBI, orangnya suka malu-malu pada pertemuan pertama. Image hosted by Photobucket.com Ia rajin mengamati burung di kota dan hutan. Noni mendapat tugas tambahan sebagai perawat semua peserta ekspedisi agar tidak “kleleran”. Noni, dibantu oleh beberapa SBI lainnya, juga bertugas mengumpulkan semua informasi yang berkenaan dengan trulek Jawa, termasuk cari-cari peta.

Arif Kurniawan, anggota. Sebagai mahasiswa semester terakhir di Fakultas Pertanian Universitas Jember, Mas Arif bergabung dengan MAPENSA. Mungkin hanya Mas Arif-lah satu-satunya anggota ekspedisi yang rajin pengamatan burung gunung terutama di Pegunungan Hyang.

Sapari, anggota. Pemuda aseli Watu Pecak ini adalah pengamat burung alami yang handal. Selain bertugas sebagai Liaison Officer Tim Ekspedisi, Sapari yang hafal dengan seluk beluk lokasi di mana ekspedisi dilakukan juga bertugas sebagai pemandu. Pengetahuannya tentang kondisi masyarakat dan lapangan daerah ekspedisi merupakan kontribusi yang amat berarti bagi kelancaran ekspedisi.

Indra Purwanto, anggota. Bapaknya Radix ini biasa dipanggil Black, entah kenapa ... ^_^. Paling tidak Mas Black punya tongkrongan tahan jemur. Hanya saja pada ekspedisi tahap dua ini tampaknya yang perlu dibuktikan oleh Mas Black adalah apakah dia juga tahan air dan anti bocor. Jika ya, mungkin nama panggilannya harus diganti jadi Mas Genteng!
Sekedar info singkat, Mas Black adalah satu-satunya anggota ekspedisi yang berstatus sudah menikah serta telah dikaruniai satu putra. Buat Radix, bapakmu dipinjem dulu ya?!


   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Mengapa Trulek Jawa (Vanellus macropterus)
Para peneliti memasukkan burung yang satu ini dalam status "kritis". Artinya, ada kemungkinan masih ada di suatu tempat, barangkali juga malah sudah punah. Tak ada laporan terbaru tentang keberadaan trulek, termasuk lokasi dan populasinya. Ada kisah-kisah tentang masih adanya burung ini. Selebihnya adalah misteri.

Risalah Trulek

Jangkauan tak diketahui
Populasi kurang dari 50
Ketinggian terbang rendah
Habitat perairan
Ancaman penyusutan dan degradasi habitat, eksploitasi, gangguan manusia

Situs Rujukan



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Monday, January 16, 2006
Indekos di Surabaya

Ekspedisi Trulek II boleh selesai, tapi "pekerjaan rumah"-nya ternyata masih bertumpuk. Karena itulah, Nonie harus indekos di Surabaya. Tepatnya di dekat rumah Mas Londo dan Mas Uut di Surabaya.

Kenapa harus kos? "Kami mau ngerjain laporan," tulis Nonie lewat SMS siang tadi. "Tapi sekarang mau main Commando dulu sebelum membuat laporan."

Menurut Nonie, rumah Mas Londo dan Mas Uut sedang lagi banyak keponakan. "Nggak enak ngerjain laporan di sana, nanti malah mengganggu," kata Nonie.

Akhirnya, ngekos adalah pilihan paling rasional. Komputer dan perkakas lainnya tinggal dibawa dan "dimainkan" di kos-kosan saja.

Begitulah kawan-kawan. Setelah aktivitas lapangan Ekspedisi II berakhir dan anggota tim pulang ke rumah masing-masing, pekerjaan lain masih menunggu. Selain membersihkan peralatan, ya itu tadi, tim harus membuat laporan pertanggungjawaban. Laporan ini nantinya akan diserahkan ke pihak-pihak terkait, donatur, sponsor, dan sebagainya.

Membuat laporan bukan pekerjaan gampang. Anggota tim mesti kerja keras menuangkan apa saja yang mereka temui di lapangan, termasuk dokumentasi burung-burung yang berhasil dilihat, serta -- ini yang tak kalah penting -- catatan pengeluaran uang. Karena itu, Nonie terpaksa indekos. Tapi, jangan lupa pulang ke Depok ya, Non! Big Smile

Posted at 5:17:04 pm
kirim komentar  

Sunday, January 15, 2006
Akhirnya ....

Setelah hampir satu bulan berjibaku di lapangan, seusai dihajar hujan angin tiada terkira, tim mengakhiri Ekspedisi Trulek Jawa II. Tadi pagi, sekitar pukul 10.00 waktu Gumuk Mas, Lumajang, tim meninggalkan lokasi menuju Surabaya. Tuntas sudah pekerjaan besar itu untuk sementara.

Nonie mengabarkan lewat pesan pendek SMS, Minggu sore, "Sekarang kami sedang leyeh-leyeh."

Hingga berakhirnya Ekspedisi Trulek II, tim belum berhasil menemukan buruan utamanya. Selain beberapa burung yang sudah dilaporkan tempo hari, tim tak melihat kawanan burung baru. "Mudah-mudahan ada kelanjutan ekspedisi trulek Jawa di Lumajang dan Muaragembong," tulis Nonie di SMS.

Begitulah, setelah melewati hari-hari basah, hujan angin, dan "penampakan" menyeramkan, anggota tim harus pulang ke rumah masing-masing mulai hari ini. Tak ada tempat yang lebih menyenangkan dan lebih hangat selain RUMAH.

Mas Londo juga mengabarkan, setelah tim menyelesaikan laporan, Nonie langsung ke Bogor. "Tim punya rencana mau main ke Bogor."

Well, terima kasih kawan-kawan atas laporan singkatnya. Juga ekspedisi ruaaar biasa yang telah teman-teman lakukan. Semoga apa yang berawal dengan baik, akan berlanjut dan berakhir dengan baik pula. Sampai jumpa di ekspedisi selanjutnya. Salam.

Posted at 6:11:01 pm
kirim komentar  

Thursday, January 12, 2006
Cerita Serem

Cerita-cerita horor tentang lelembut seperti yang biasa kita tonton di TV sebangsa Dunia Lain, Percaya Nggak Percaya, dan sebagainya itu ternyata juga terjadi di alam kasunyatan.

Paling tidak, rekan-rekan kita yang tengah melakukan ekspedisi itu mengaku mengalaminya. Begini ceritanya.

Seperti biasa kalau teman-teman masuk ke suatu daerah baru, mereka pasti sowan dulu ke lurah/kepala desa setempat untuk minta ijin agar tak disangka rombongan teroris. Siapa tahu juga, pak lurah malah bisa menyediakan tempat bermalam sekalian.

Ketika sampai di camp 4 yang berada di perbatasan antara Wot Galih dan Maleman, Kabupaten Lumajang, pun tim melakukan prosedur yang sama. Tim diterima oleh pak lurah setempat yang ramah. Setelah berbasa-basi sejenak, pak lurah kok ya malah memberi tumpangan bermalam di rumah kayu yang terletak "in the middle of nowhere". Tentu saja tim tak menolak tawaran itu. Begitu kunci diberikan, tim pun bergegas menuju rumah itu.

Sekilas tak ada yang aneh dari rumah yang dikelilingi oleh enam kolam -- tepatnya tambak -- ikan nila, kebun jagung, dan gumuk pasir itu. Namun, sewaktu kawan-kawan hendak masuk, ternyata hanya pintu belakang yang bisa dibuka. Pintu depannya harus dibongkar paksa dengan menggunakan golok dan pisau.

Tanda-tanda spooky sebenarnya mulai terlihat di sini. Di pintu depan rumah itu ada coretan/goresan bertuliskan kalimat, "Mus sudah memperkosa Rosida di sini." Memperkosa? Wah .... gawat nih.

Tapi karena tak tahu kejadian yang dimaksud tulisan itu, para anggota tim cuek saja dan tetap masuk rumah. Sesudah tim membersihkan debu dan kotoran, semut sampai bekas kulit ular, layaklah rumah itu ditempati. Selesaikah?

Besoknya, terjadi saling kirim pesan pendek SMS antara Mas Londo dan saya. Ini cuplikannya.

Londo : Mas, kawan-kawan banyak mengalami kejadian gaib di camp 4.

Saya  : Kejadian gaib bagaimana, Mas?

Londo : Tiga hari berturut-turut Arief melihat sosok perempuan di kuda-kuda bangunan. Uut mendengar suara perempuan menangis. Black juga dengar suara-suara aneh.

Saya : Wah, itu mesti arwah si Rosida.

Londo : Kami baru berbagi cerita menjelang pagi hari. Banyak warga desa pencari rumput yang heran. Mereka bilang, "Kok wani-wanine (berani-beraninya)?" Hehehe...

Saya  : Kalau begitu, mungkin Pak Lurahnya itu yang jahil.

Londo : Lha iyo, kita ini lagi cari burung yang katanya gaib, eh malah didatangi makhluk gaib.

Terus terang saya merinding mendapatkan SMS seperti itu. Untunglah, Londo dan kawan-kawan tak menyerah dan takut pada lelembut yang tak terlihat itu. Hari ini tim terus melanjutkan aktivitasnya di Gumuk Mas, Kabupaten Lumajang. Moga-moga mereka tak diganggu lagi arwah gentayangan yang siapa tahu justru mau ikut pengamatan.

Posted at 3:50:30 pm
kirim komentar  

Wednesday, January 04, 2006
Anak Burung Bermunculan

Tim ekspedisi mulai sulit dihubungi, tampaknya mereka mulai memasuki blank spot. Komunikasi yang lebih sering putus daripada nyambung membuat berita dari lapangan datang tersendat-sendat.

Berita soal bencana banjir bandang di Jember pun diterima oleh tim ekspedisi dari Bogor, bukan sebaliknya, padahal lokasi ekspedisi tidak jauh dari wilayah bencana. Cerita tentang bencana tersebut dapat dilihat di blog pecas ndahe.

Berita terakhir yang diterima tadi malam, Selasa (3/1), mengabarkan bahwa tim masih berada di camp 3 di Wotgalih dan masih melakukan pengamatan di daerah tersebut. Besok atau lusa mereka berencana bergerak pindah menuju camp 4 di Maleman.

Pesan singkat yang diterima dari Mbak Nonie mengabarkan bahwa tim ekspedisi menjumpai beberapa anak burung air seperti Kareo padi (Amaurornis phoenicurus), Tikusan (Porzana sp.) dan Titihan australia (Tachybaptus novaehollandiae). Ini menunjukan bahwa daerah ini menjadi tempat berbiak (breeding ground) bagi banyak jenis burung air.

Foto di atas adalah gambar Kareo padi yang diambil dari situs Kolkata Birds.


Posted at 5:51:24 pm
kirim komentar  

Monday, January 02, 2006
Tahun Baru, Burung Baru

Malam pergantian tahun 2005 - 2006 dilalui oleh tim ekspedisi di camp 2 yang juga merupakan tempat latihan TNI-AU. Ikan bakar dan ayam bakar pemberian dari para prajurit TNI-AU [terima kasih banyak ya Mas-Mas sekalian] menjadi menu pergantian tahun.

Selain acara bakar-bakar ikan dan ayam, acara pergantian tahun dilalui dengan bakar-bakar kembang api yang sengaja dibawa Mbak Nonie dari Jakarta.

Hari pertama 2006 ditandai dengan acara pengamatan dan perjalanan ke camp 3 yang terletak di perbatasan Desa Wotgalih. Tim dibagi dua, Mas Londo, Mas Black dan Cak Sapari berjalan kaki, sementara Mas Uut, Mbak Nonie dan Mas Arief naik motor dan mencari lokasi camp.

Calon lokasi camp 3 yang tadinya merupakan lokasi camp 6 di ekspedisi tahap pertama ternyata sudah terendam air, sehingga tim terpaksa mencari lokasi yang letaknya lebih tinggi. Camp 3 ini terletak kira-kira 175 meter di timur laut camp 6 ekspedisi tahap pertama.

Hari ke dua 2006 ditandai dengan dijumpainya jenis baru untuk lokasi ekspedisi. Seekor Burung-sepatu teratai (Hydrophasianus chirurgus) -- lihat foto di atas yang diambil dari situs Mangoverde. Burung yang cantik ini terlihat di daerah Talsewu.

Hujan angin tampaknya sudah mulai berhenti, walaupun hujan gerimis masih terus turun di malam hari sehingga pengamatan malam hari menjadi terhambat. Tim berencana untuk menetap di camp 3 selama beberapa hari sebelum menuju camp 4 yang rencananya akan berlokasi di sekitar Maleman.


Posted at 8:42:55 pm
kirim komentar  

Friday, December 30, 2005
Dihantam Angin

Setelah kena musibah tenda diterbangkan angin siang kemarin, malamnya SMS dari tim ekspedisi mengabarkan bahwa camp kembali dihantam angin kencang sehingga dua frame tenda yang terbuat dari fiberglass patah.


Untung saja malam itu hujan tidak turun. Masalah tersebut untuk sementara sudah bisa diatasi setelah tim bekerja bahu membahu tanpa ada yang mengeluh. Tim juga memesan agar dikirimi frame cadangan mengingat ekspedisi masih panjang.

Pagi ini udara cerah, mudah-mudahan cuaca seperti ini bisa bertahan. Setelah sarapan, pengamatan kembali dilakukan di sekitar camp 1 dan tim kembali mendapatkan satu record baru untuk daerah ekspedisi, yakni Cerek asia (Charadrius veredus) yang fotonya seperti di sebelah ini, diambil dari SurfBird.

Penemuan-penemuan seperti ini makin mengukuhkan pendapat bahwa daerah di kawasan selatan Lumajang ini memang penting untuk burung yang masih perlu untuk dieksplorasi.


Posted at 10:07:55 am
kirim komentar  

Previous Page Next Page